Senin, 26 November 2012

Ziarah Spiritual Wali 7 Bali


Pulau Bali yang identik dengan sebutan Pulau Dewata ini yang menyimpan keindahan alam berupa pegunungan, pantai, dan danau dengan pemandangan yang indah, sebut saja pantai Kuta, pantai Sanur, Nusa Dua atau Tanah Lot yang sangat terkenal. Atau mungkin pasar seni Sukawati yang menawarkan oleh-oleh khas Bali dan tempat-tempat yang indah lainnya. Tapi taukah anda jika Bali juga menyimpan sajian wisata lain? Wisata religi.
Terdapat 7 (tujuh) makam wali yang dianggap keramat yang tersebar di beberapa tempat, karena itu disebut juga Wali Pitu atau Wali Tujuh, yang hingga saat ini kerap diziarahi kaum muslim maupun non muslim dari berbagai penjuru tanah air. Mereka adalah:

  1. Raden Mas Sepuh / Pangeran Amangkuningrat (Keramat Pantai Seseh)
  2. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi (Keramat Bukit Bedugul)
  3. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid di (Keramat Pantai Kusamba)
  4. Habib Ali Zainal Abidin Al Idrus (Keramat Karangasem)
  5. Syeich Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi (Keramat Karangasem)
  6. Syeich Abdul Qodir Muhammad (Keramat Karangrupit)
  7. Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana



Raden Mas Sepuh yang bernama kecil Pangeran Amangkuningrat adalah putra Raja Mengwi I. Semenjak kecil, beliau diasuh oleh ibundanya, seorang muslimah asal Blambangan, Jawa Timur. Proses ditemukannya Makam Keramat Pantai Seseh dimulai sejak Jamaah Manaqib yang ada di Bali mendapat petunjuk, yaitu pada bulan Muharram 1413 H atau 1992 M yang kemudian ditemukan juga makam keramat yang lain. Makam ini terletak di Pantai Seseh, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung yang berdampingan dengan Pura Agung di Tanah Lot. Jarak antara Pantai Seseh dan Jalan Raya Tabanan - Denpasar ± 15 km. Selain dikeramatkan oleh 

kaum muslimin, makamnya juga dihormati oleh umat Hindu. Juru kuncinya bahkan seorang pemuka Hindu.





Makam Raden Ayu Siti Khotijah ini terletak di Jln. Batu Karu, Pamecutan, Denpasar. Beliau bernama asli Ratu Ayu Anak Agung Rai, adik Raja Cokorda III dari Kerajaan Pamecutan, yang dipersunting oleh Pangeran Sosrodiningrat, seorang senopati Kerajaan Mataram.
Suatu malam sewaktu Siti Khotijah mengerjakan shalat tahajjud di kamar yang pintunya terbuka, secara tidak sengaja ia terlihat oleh pengawal yang tengah berjaga dan terdengar suara takbir “Allahu Akbar”, yang didengarnya sebagai “makeber” yang dalam bahasa Bali berarti “terbang”. Pengawal yang melihat Siti Khotijah yang mengenakan mukenah putih mengiranya leak, menghujamkan tombak ke punggung Siti Khotijah yang saat itu dalam posisi sujud, dan tewas di tempat.
Jenazah Dewi Khodijah yang tertelungkup dengan tombak terhunjam di punggungnya sulit diangkat dan dibujurkan. Jenazahnya tetap sujud tidak berubah. Baginda mencari bantuan kepada umat Islam yang ada di sana agar dapat merawat jenazah adiknya menurut cara Islam. Umat Islam lalu segera membantu merawat jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menshalati, sampai memakamkannya dan semuanya berjalan lancar. Meski demikian, satu hal yang tak dapat diatasi yaitu batang tombak yang menghujam di punggungnya tidak dapat dicabut. Akhirnya, atas keputusan semua pihak, jenazah dimakamkan bersama tombak yang masih berada di punggungnya. Anehnya, batang tombak yang terbuat dari kayu itu bersemi dan hidup sampai sekarang, yang terlihat apabila Anda berkunjung ke makam ini.

Beliau adalah seorang senopati dari Mataram, suami dari Dewi Khotijah (Ratu Ayu Anak Agung Rai) sebagai hadiah karena telah berjasa membantu Raja Pemecutan ketika memenangkan peperangan melawan musuhnya. Makam beliau berada di Loloan, Kabupaten Jembrana.

Yang kini diberi wewenang oleh kerabat keluarga Raja Pemecutan untuk mengawasi dan memelihara Makam Keramat Pamecutan (makam Siti Khodijah) dan makam Pangeran Sosrodiningrat adalah Bapak K.H.M. Ishaq, sesepuh atau tetua Kampung Islam Kepaon, yang juga menjadi tetua umat Islam Kepaon.


Pada suatu hari waktu pulang mengajar sang guru tidak tahu kalau berpapasan dengan salah satu putra raja dan sang guru tidak turun dari kudanya, hal tersebut membuat putra raja marah. Masalah itu sampai juga di telinga raja. Maka sang guru diperintah melalui jalur tepi pantai. Hari berganti minggu berganti bulan banyak orang melihat ada orang berkuda berjalan di tepi pantai/laut, ia dikira saudagar kaya raya. Suatu hari saat sang guru hendak pulang ke Kusamba, di tengah perjalanan dihadang beberapa orang, karena perlawanan yang tidak seimbang banyaknya, maka sang guru pun tewas.
Keanehan yang terjadi, setelah dimakamkan, malam harinya Chabib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid atau sang guru mengeluarkan bola-bola api terbang mencari para pembunuhnya dan memang benar semua pembunuh tewas tak tersisa.


Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al Hamid
berada di tepi pantai di Desa Kusumba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, tidak jauh dari selat yang menghubungkan Klungkung dengan Nusa Penida. Selain dikeramatkan oleh kaum muslimin, makam ini juga dikeramatkan oleh umat Hindu. Semasa hidupnya, Habib Ali mengajar bahasa Melayu kepada Raja Dalem I Dewa Agung Jambe dari Kerajaan Klungkung. Sang Prabu menghadiahkan seekor kuda sebagai kendaraan dari kediamannya di Kusamba menuju puri Klungkung.
Pada suatu hari, sewaktu Habib Ali pulang dari Klungkung dan sesampainya di pantai Kusamba, beliau diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal dengan senjata tajam dan tewas di tempat. Akhirnya, jenazah beliau dimakamkan di ujung barat pekuburan Desa Kusamba.


Setiap Rabu terakhir bulan Safar, masyarakat setempat berbondong-bondong naik ke bukit berziarah di makam Habib Umar bin Yusuf Al Maghribi ini untuk memperingati wafatnya dengan mengadakan do’a bersama dan kenduri selamatan.
Makam ini terletak di bukit Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali, yang hanya berwujud empat batu nisan untuk dua makam, yaitu makam Habib Umar dan pengikutnya yang luasnya 4×4 meter. Makam ini sebenarnya sudah lama ada, namun menurut keterangan dari beberapa tokoh masyarakat setempat baru saja ditemukan sekitar 40—50 tahun berselang oleh seorang yang mencari kayu bakar di bukit Bedugul tersebut. Untuk mencapai makam tersebut, peziarah harus berjalan kaki mendaki kurang lebih 4 jam.

Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus
Keramat Kembar Karangasem terletak di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Makam keramat tersebut berada tidak jauh dari Jalan Raya Subangan arah ke utara, jalan tembus menuju ke Singaraja dari Desa Temukus. Dari Singaraja berjarak ± 6-7 km.
Di dalam satu cungkup makam kembar tersebut terdapat makam tua/kuno berjajar dengan makam Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus. Menurut masyarakat, makam kuno inilah yang dikeramatkan sejak zaman dahulu. Makam ini diperkirakan berusia 350—400 tahun. Adapun mengenai nama, sejarah, dan dari mana asalnya, tidak satu pun yang tahu, bahkan juru kuncinya pun tidak tahu. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa makam ini adalah makam dari Syekh Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi serta makam Tengku Abdurrahman.
Adapun Habib Ali Zainal Abidin al-Idrus (wafat pada 9 Ramadhan 1404 H / 19 Juni 1983) dikenal sebagai ulama besar yang arif bijaksana, dan banyak santri yang mengaji kepadanya yang berasal dari Bali, Lombok dan sekitarnya. Semasa hidupnya, beliau menjadi juru kunci makam kuno itu dan dimakamkan di samping makan kuno tersebut.

Syeikh Abdul Qodir Muhammad ( The Kwan Lie )

Makam Keramat Karang Rupit terletak di Desa Temukus (Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Makam tersebut berada di tepi Jalan Raya Seririt. Berjarak ± 15 km dari Singaraja.
Makam keramat ini adalah makam dari Syeikh Abdul Qadir Muhammad yang memiliki nama asli The Kwan Lie atau The Kwan Pao-Lie. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Keramat Karang Rupit.Semasa remaja, beliau adalah murid Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Para peziarah, baik muslim maupun Hindu, biasanya banyak berkunjung pada hari Rabu terakhir (Rabu Wekasan) bulan Shafar. Uniknya, masing-masing menggelar upacara menurut keyakinan masing-masing.
Dari dataran Tiongkok/Cina mengembara ke Singapura di Bukit Temasek (sekarang menjadi Stadion Nasional Singapura) bertemu dengan Zaenal Abidin dan Habib Husin. Selang beberapa waktu mengembara ke Palembang setelah bermukim beberapa tahun mengembara ke Jawa mengembara ilmu di Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat. Diperkirakan sudah cukup mendalami ilmunya, The Kwan Lie diantar Sunan Gunung Jati ke Pulau Bali untuk menyebarkan agama Islam, walaupun banyak cobaan dari segala penjuru namun dengan ikhlas, sabar, tawakal, ngalah, loman, Allah SWT memberikan yang terbaik dan mendapat gelar Syeikh Abdul Qodir Muhammad.


Habib Ali Bafaqih lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, datang ke Bali pada tahun 1917 dan sebelumnya belajar agama di Mekkah. Pada tahun 1935 beliau mendirikan Pondok Pesantren Syamsul Huda yang telah meluluskan ribuan ulama & da'i. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di tanah air. Faktor inilah yang diduga menjadi sebab ramainya para paziarah. Habib Ali wafat pada 1997 dalam usia 107 tahun. Selain menguasai ilmu Al-Qur'an, Habib Ali juga dikenal sebagai pendekar silat yang tangguh.
Makam beliau terletak di Kompleks Pondok Pesantren Syamsul Huda: Jln. Nangka No. 145, Loloan Barat, Negara, Jembrana.


informasi: dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar