Senin, 26 November 2012

Ziarah Spiritual Wali 7 Bali


Pulau Bali yang identik dengan sebutan Pulau Dewata ini yang menyimpan keindahan alam berupa pegunungan, pantai, dan danau dengan pemandangan yang indah, sebut saja pantai Kuta, pantai Sanur, Nusa Dua atau Tanah Lot yang sangat terkenal. Atau mungkin pasar seni Sukawati yang menawarkan oleh-oleh khas Bali dan tempat-tempat yang indah lainnya. Tapi taukah anda jika Bali juga menyimpan sajian wisata lain? Wisata religi.
Terdapat 7 (tujuh) makam wali yang dianggap keramat yang tersebar di beberapa tempat, karena itu disebut juga Wali Pitu atau Wali Tujuh, yang hingga saat ini kerap diziarahi kaum muslim maupun non muslim dari berbagai penjuru tanah air. Mereka adalah:

  1. Raden Mas Sepuh / Pangeran Amangkuningrat (Keramat Pantai Seseh)
  2. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi (Keramat Bukit Bedugul)
  3. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid di (Keramat Pantai Kusamba)
  4. Habib Ali Zainal Abidin Al Idrus (Keramat Karangasem)
  5. Syeich Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi (Keramat Karangasem)
  6. Syeich Abdul Qodir Muhammad (Keramat Karangrupit)
  7. Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana



Raden Mas Sepuh yang bernama kecil Pangeran Amangkuningrat adalah putra Raja Mengwi I. Semenjak kecil, beliau diasuh oleh ibundanya, seorang muslimah asal Blambangan, Jawa Timur. Proses ditemukannya Makam Keramat Pantai Seseh dimulai sejak Jamaah Manaqib yang ada di Bali mendapat petunjuk, yaitu pada bulan Muharram 1413 H atau 1992 M yang kemudian ditemukan juga makam keramat yang lain. Makam ini terletak di Pantai Seseh, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung yang berdampingan dengan Pura Agung di Tanah Lot. Jarak antara Pantai Seseh dan Jalan Raya Tabanan - Denpasar ± 15 km. Selain dikeramatkan oleh 

kaum muslimin, makamnya juga dihormati oleh umat Hindu. Juru kuncinya bahkan seorang pemuka Hindu.





Makam Raden Ayu Siti Khotijah ini terletak di Jln. Batu Karu, Pamecutan, Denpasar. Beliau bernama asli Ratu Ayu Anak Agung Rai, adik Raja Cokorda III dari Kerajaan Pamecutan, yang dipersunting oleh Pangeran Sosrodiningrat, seorang senopati Kerajaan Mataram.
Suatu malam sewaktu Siti Khotijah mengerjakan shalat tahajjud di kamar yang pintunya terbuka, secara tidak sengaja ia terlihat oleh pengawal yang tengah berjaga dan terdengar suara takbir “Allahu Akbar”, yang didengarnya sebagai “makeber” yang dalam bahasa Bali berarti “terbang”. Pengawal yang melihat Siti Khotijah yang mengenakan mukenah putih mengiranya leak, menghujamkan tombak ke punggung Siti Khotijah yang saat itu dalam posisi sujud, dan tewas di tempat.
Jenazah Dewi Khodijah yang tertelungkup dengan tombak terhunjam di punggungnya sulit diangkat dan dibujurkan. Jenazahnya tetap sujud tidak berubah. Baginda mencari bantuan kepada umat Islam yang ada di sana agar dapat merawat jenazah adiknya menurut cara Islam. Umat Islam lalu segera membantu merawat jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menshalati, sampai memakamkannya dan semuanya berjalan lancar. Meski demikian, satu hal yang tak dapat diatasi yaitu batang tombak yang menghujam di punggungnya tidak dapat dicabut. Akhirnya, atas keputusan semua pihak, jenazah dimakamkan bersama tombak yang masih berada di punggungnya. Anehnya, batang tombak yang terbuat dari kayu itu bersemi dan hidup sampai sekarang, yang terlihat apabila Anda berkunjung ke makam ini.

Beliau adalah seorang senopati dari Mataram, suami dari Dewi Khotijah (Ratu Ayu Anak Agung Rai) sebagai hadiah karena telah berjasa membantu Raja Pemecutan ketika memenangkan peperangan melawan musuhnya. Makam beliau berada di Loloan, Kabupaten Jembrana.

Yang kini diberi wewenang oleh kerabat keluarga Raja Pemecutan untuk mengawasi dan memelihara Makam Keramat Pamecutan (makam Siti Khodijah) dan makam Pangeran Sosrodiningrat adalah Bapak K.H.M. Ishaq, sesepuh atau tetua Kampung Islam Kepaon, yang juga menjadi tetua umat Islam Kepaon.


Pada suatu hari waktu pulang mengajar sang guru tidak tahu kalau berpapasan dengan salah satu putra raja dan sang guru tidak turun dari kudanya, hal tersebut membuat putra raja marah. Masalah itu sampai juga di telinga raja. Maka sang guru diperintah melalui jalur tepi pantai. Hari berganti minggu berganti bulan banyak orang melihat ada orang berkuda berjalan di tepi pantai/laut, ia dikira saudagar kaya raya. Suatu hari saat sang guru hendak pulang ke Kusamba, di tengah perjalanan dihadang beberapa orang, karena perlawanan yang tidak seimbang banyaknya, maka sang guru pun tewas.
Keanehan yang terjadi, setelah dimakamkan, malam harinya Chabib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid atau sang guru mengeluarkan bola-bola api terbang mencari para pembunuhnya dan memang benar semua pembunuh tewas tak tersisa.


Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al Hamid
berada di tepi pantai di Desa Kusumba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, tidak jauh dari selat yang menghubungkan Klungkung dengan Nusa Penida. Selain dikeramatkan oleh kaum muslimin, makam ini juga dikeramatkan oleh umat Hindu. Semasa hidupnya, Habib Ali mengajar bahasa Melayu kepada Raja Dalem I Dewa Agung Jambe dari Kerajaan Klungkung. Sang Prabu menghadiahkan seekor kuda sebagai kendaraan dari kediamannya di Kusamba menuju puri Klungkung.
Pada suatu hari, sewaktu Habib Ali pulang dari Klungkung dan sesampainya di pantai Kusamba, beliau diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal dengan senjata tajam dan tewas di tempat. Akhirnya, jenazah beliau dimakamkan di ujung barat pekuburan Desa Kusamba.


Setiap Rabu terakhir bulan Safar, masyarakat setempat berbondong-bondong naik ke bukit berziarah di makam Habib Umar bin Yusuf Al Maghribi ini untuk memperingati wafatnya dengan mengadakan do’a bersama dan kenduri selamatan.
Makam ini terletak di bukit Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali, yang hanya berwujud empat batu nisan untuk dua makam, yaitu makam Habib Umar dan pengikutnya yang luasnya 4×4 meter. Makam ini sebenarnya sudah lama ada, namun menurut keterangan dari beberapa tokoh masyarakat setempat baru saja ditemukan sekitar 40—50 tahun berselang oleh seorang yang mencari kayu bakar di bukit Bedugul tersebut. Untuk mencapai makam tersebut, peziarah harus berjalan kaki mendaki kurang lebih 4 jam.

Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus
Keramat Kembar Karangasem terletak di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Makam keramat tersebut berada tidak jauh dari Jalan Raya Subangan arah ke utara, jalan tembus menuju ke Singaraja dari Desa Temukus. Dari Singaraja berjarak ± 6-7 km.
Di dalam satu cungkup makam kembar tersebut terdapat makam tua/kuno berjajar dengan makam Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus. Menurut masyarakat, makam kuno inilah yang dikeramatkan sejak zaman dahulu. Makam ini diperkirakan berusia 350—400 tahun. Adapun mengenai nama, sejarah, dan dari mana asalnya, tidak satu pun yang tahu, bahkan juru kuncinya pun tidak tahu. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa makam ini adalah makam dari Syekh Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi serta makam Tengku Abdurrahman.
Adapun Habib Ali Zainal Abidin al-Idrus (wafat pada 9 Ramadhan 1404 H / 19 Juni 1983) dikenal sebagai ulama besar yang arif bijaksana, dan banyak santri yang mengaji kepadanya yang berasal dari Bali, Lombok dan sekitarnya. Semasa hidupnya, beliau menjadi juru kunci makam kuno itu dan dimakamkan di samping makan kuno tersebut.

Syeikh Abdul Qodir Muhammad ( The Kwan Lie )

Makam Keramat Karang Rupit terletak di Desa Temukus (Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Makam tersebut berada di tepi Jalan Raya Seririt. Berjarak ± 15 km dari Singaraja.
Makam keramat ini adalah makam dari Syeikh Abdul Qadir Muhammad yang memiliki nama asli The Kwan Lie atau The Kwan Pao-Lie. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Keramat Karang Rupit.Semasa remaja, beliau adalah murid Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Para peziarah, baik muslim maupun Hindu, biasanya banyak berkunjung pada hari Rabu terakhir (Rabu Wekasan) bulan Shafar. Uniknya, masing-masing menggelar upacara menurut keyakinan masing-masing.
Dari dataran Tiongkok/Cina mengembara ke Singapura di Bukit Temasek (sekarang menjadi Stadion Nasional Singapura) bertemu dengan Zaenal Abidin dan Habib Husin. Selang beberapa waktu mengembara ke Palembang setelah bermukim beberapa tahun mengembara ke Jawa mengembara ilmu di Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat. Diperkirakan sudah cukup mendalami ilmunya, The Kwan Lie diantar Sunan Gunung Jati ke Pulau Bali untuk menyebarkan agama Islam, walaupun banyak cobaan dari segala penjuru namun dengan ikhlas, sabar, tawakal, ngalah, loman, Allah SWT memberikan yang terbaik dan mendapat gelar Syeikh Abdul Qodir Muhammad.


Habib Ali Bafaqih lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, datang ke Bali pada tahun 1917 dan sebelumnya belajar agama di Mekkah. Pada tahun 1935 beliau mendirikan Pondok Pesantren Syamsul Huda yang telah meluluskan ribuan ulama & da'i. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di tanah air. Faktor inilah yang diduga menjadi sebab ramainya para paziarah. Habib Ali wafat pada 1997 dalam usia 107 tahun. Selain menguasai ilmu Al-Qur'an, Habib Ali juga dikenal sebagai pendekar silat yang tangguh.
Makam beliau terletak di Kompleks Pondok Pesantren Syamsul Huda: Jln. Nangka No. 145, Loloan Barat, Negara, Jembrana.


informasi: dari berbagai sumber

Jumat, 23 November 2012

Pantai Di Gunung Kidul Jogjakarta

1. Pantai Sadeng
2. Pantai Wedi Ombo
3. Pantai Siung
4. Pantai Sundak
5. Pantai Ngandong
6. Pantai Krakal
7. Pantai Drini
8. Pantai Sepanjang
9. Pantai Kukub
10. Pantai Baron
11. Pantai Ngrenehan
12. Pantai Parang Endong
13. Pantai Ngobaran
14. Pantai Indrayanti
dll
lihat pet

Kamis, 08 Desember 2011

Selasa, 06 Desember 2011

OBYEK WISATA KETEB

OBYEK WISATA KETEP PASS


OBYEK WISATA KETEP PASS

Obyek Wisata Ketep Pass dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata baru di jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) dengan ciri khas wisata kegunungapian.
Obyek Wisata Ketep Pass kabupaten Magelang merupakan Obyek Wisata Alam Kegunungapian khususnya Gunung Merapi.Obyek Wisata Ketep Pass terletak pada ketingggian 1200 m dpl.Luas area sekitar 8000 m persegi,berjarak 17 km dari Blabak Magelang kearah timur,30 km dari Kota Magelang dan 35 km dari Boyolalai.Dari kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km,dapat melalaui Kopeng dan Desa Kaponan dan 30 km dari Candi Borobudur.Lokasi Obyek mudah dijangkau baik dengan Bus Besar,Mini bus,Sedan atau sejenisnya maupun sepeda motor.

Atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah H.Mardiyanto,dipilih tanah berbukit ini untuk dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata baru di jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) dengan ciri khas wisata kegunungapian.Obyek Wisata Ketep Pass diresmikan oleh Presiden RI Megawati Sukarno Putri pada 17 Oktober 2002.

GARDU PANDANG
Berupa 2 buah gazebo masing-masing dengan ukuran empat persegi panjang dan bangunan segi delapan dengan panjang panjang sisi lima meter.Tempat untuk melihat keindahan alam Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.Serta hamparan lahan pertanian di kedua kaki Gunung tersebut.Sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh pedagang disekitar Obyek.

KETEP VULKANO THEATRE
Sebuah gedung tempat pemutaran film dokumenter tentang aktivitas Gunung Merapi dengan kapasitas tempat duduk 78 kursi.Film ilmiah yang menceritakan tentang terjadinya,jalur-jalur pendakian,penelitian dipuncak Garuda serta letusan dahsyat Gunung Merapi,

KETEP VULKANO CENTRE

Sebuah gedung yang disebut museum dangan luas kurang lebih 550 m persegi.Sebuah museum vulcanologi yang didalamnya berdiri miniatur Gunung Merapi,Komputer interaktif yang berisi tentang dokomen kegunungapian,beberapa contoh batu-batuan bukti letusan dari tahun ke tahun.Poster puncak Garuda yang berukuran 3x3m,poster peringatan dini lahar Gunung Merapi

AREAL PARKIR
Areal parkir yang luas dan cukup memedai untuk menampung Bus besar.

PELATARAN PANCA ARGA
Panca Arga mempunyai arti Lima Gunung,pada lokasi ini merupakan puncak tertinggi di Obyek Wisata Ketep Pass.Dari puncak tertinggi ini pengunjung dapat melihat Lima Gunung yaitu Gunung Merapi,Gunung Merbabu,Gunung Sindoro,Gunung Sumbing dan Gunung Slamet.
Selain kelima Gunung tersebut pengunjung masih dapat melihat dan menikmati Gunung-Gunung kecil dan Bukit-bukit yang sangat indah antara lain,Gunung Tidar,Gunung Andong,Gunung Pring,Bukit Menoreh,Bukit Telo Moyo dll.

RESTAURANT KETEP PASS
Disini pengunjung dapat menikmati menu yang disajikan diRestaurant Ketep Pass sesuai selera.Bangunan di atas ketep vulcano teatre yang berdinding kaca ini,sangat cocok untuk pengunjung sambil menyantap hidangan yang tersedia juga menikmati indahnya panorama di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

TEROPONG

Sebanyak dua buah yang berada di puncak Panca Arga dan Gardu Pandang.Dengan alat ini pengunjung dapat melihat dengan jelas keindahan panorama Gunung Merapi,Gunung Merbabu dan gunung-gunung yang lain.

MUSHOLA
Luas bangunan mushola kurang lebih 10 m persegi dengan bentuk bangunan yang artistik,lengkap dengan tempat wudlu dan toilet.

Obyek wisata Ketep terletak di Desa Ketep, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Pembangunan kawasan wisata Ketep diprakarsai oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, dan diresmikan oleh Presiden Megawati pada tanggal 17 Oktober 2002. Sejak diresmikan, kawasan wisata Ketep ditetapkan sebagai obyek wisata kegunungapian.

BUDAYA DEMAK

1. KESENIAN KENTRUNG DAN TARI ZIPIN

 

Seni kentrung atau kentrungan biasanya dimainkan pada saat hari-hari besar Islam, kawinan, khitanan, atau acara besar lainnya. Kesenian ini dimainkan dengan seperangkat alat musik yang terdiri dari gendang ,rebana, ketipung, serta jidur. Kesenian ini berisikan cerita-cerita para nabi, wali, serta lagu-lagu Islam.

2. BARONG DAN KUDA LUMPING


Kesenian Barong Demak memang memiliki ke-khas-an tersendiri. Selain dari pakem ceritanya, yang membedakan barong Demak dengan lainnya nampak dari pakaian yang dikenakan.

3. TRADISI SYAWALAN

Syawalan atau sedekah laut merupakan tradisi yang selalu dilakukan masyarakat pesisir setiap bulan Syawal atau tepatnya 7 hari setelah Idul Fitri.
Kegiatan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah keselamatan dan hasil laut yang telah dilimpahkan. Melalui kegiatan ini, masyarakat pesisir berharap tangkapan pada tahun-tahun mendatang terus membaik dan selalu diberkati keselamatan.

 

 

 

 

4. GREBEG BESAR




Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.
Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga, bahkan salah satu wali tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.
Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada.
Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saati ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.

WISATA KOTA DEMAK

1. MAKAM KADILANGU


Makam Sunan Kalijaga terletak di Kadilangu sekitar 1,5 km dari Masjid Agung Demak menuju arah tenggara.
Makam Sunan Kalijaga banyak dikunjungi peziarah khususnya pada malam Jum'at Kliwon. Di tempat ini pula pada bulan Dzulhijah dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yang merupakan rangkaian dari gelar budaya grebeg besar.






2. MASJID AGUNG DEMAK



Berbicara Demak tak bisa lepas dari Masjid Agung Demak yang merupakan landmark Kabupaten Demak. Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali Sembilan atau Wali Songo.
Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara.

3.PANTAI MOROSARI








Terletak di Kecamatan Sayung, berbatasan dengan kota Semarang tepatnya di Desa Bendono, kira-kira 3,5 km dari Jalan Raya Semarang-Demak.
Tersedia restorant Seafood "The Ocean" dengan menu makanan laut yang spesial dengan view laut Jawa yang mempesona.

Jumat, 02 Desember 2011

104. AL HUMAZAH (PENGUMPAT)

 
waylun likulli humazatin lumazatin

[104:1] Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
 
 
alladzii jama'a maalan wa'addadahu

[104:2] yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
 
 
yahsabu anna maalahu akhladahu

[104:3] dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
 
 
kallaa layunbadzanna fii alhuthamati

[104:4] sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
 
 
wamaa adraaka maa alhuthamatu

[104:5] Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
 
 
naaru allaahi almuuqadatu

[104:6] (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
 
 
allatii taththhali'u 'alaa al-af-idati

[104:7] yang (membakar) sampai ke hati.
 
 
lnnahaa 'alayhim mu/shadatun

[104:8] Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
 
 
fii 'amadin mumaddadatin

[104:9] (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

105. AL FIIL (GAJAH)

 
alam tara kayfa fa'ala rabbuka bi-ash-haabi alfiili

[105:1] Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah
 
 
alam yaj'al kaydahum fii tadhliilin

[105:2] Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?,
 
 
wa-arsala 'alayhim thayran abaabiila

[105:3] dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
 
 
tarmiihim bihijaaratin min sijjiilin

[105:4] yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
 
 
faja'alahum ka'ashfin ma/kuulin

[105:5] lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
 

106. QURAISY (SUKU QURAISY)

 
li-iilaafi quraysyin

[106:1] Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
 
 
iilaafihim rihlata alsysyitaa-i waalshshayfi

[106:2] (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas
 
 
falya'buduu rabba haadzaa albayti

[106:3] Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).
 
 
alladzii ath'amahum min juu'in waaamanahum min khawfin

[106:4] Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
 

107. AL MAA'UUN (BARANG-BARANG YANG BERGUNA)

 
ara-ayta alladzii yukadzdzibu bialddiini

[107:1] Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
 
 
fadzaalika alladzii yadu''u alyatiima

[107:2] Itulah orang yang menghardik anak yatim,
 
 
walaa yahudhdhu 'alaa tha'aami almiskiini

[107:3] dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
 
 
fawaylun lilmushalliina

[107:4] Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
 
 
alladziina hum 'an shalaatihim saahuuna

[107:5] (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
 
 
alladziina hum yuraauuna

[107:6] orang-orang yang berbuat riya
 
 
wayamna'uuna almaa'uuna

[107:7] dan enggan (menolong dengan) barang berguna